Oleh: Hasan Achari Harahap
Tidak ada shift, tidak ada sekat ruangan, dan tidak ada atasan yang mengawasi di balik meja. Buruh era digital, seperti para pengemudi ojek online, kini memiliki ‘kantor’ seluas peta GPS mereka. Mereka adalah penguasa atas waktu sendiri, bergerak lincah di sela kemacetan, mendefinisikan ulang apa artinya bekerja di abad ke-21.
Di balik kemudi dan notifikasi yang tak henti berbunyi, tersembunyi realitas yang berbeda. Banyak dari mereka mengenakan jaket itu bukan karena memilih, tetapi karena ruang-ruang kerja formal telah lama menutup akses bagi mereka.
Ingatanku melayang pada sebuah percakapan singkat dengan seorang pengemudi ojek online. Dengan nada datar ia bercerita,
“Dulu saya kerja di perusahaan di Jakarta. Tapi waktu pandemi COVID-19, ada pengurangan karyawan. Mau tak mau saya pulang kampung. Untuk bertahan hidup, ya daftar jadi ojek online.”
Kisah itu bukan sekadar rekaman tunggal. Ia adalah gema dari ribuan suara serupa yang memenuhi aspal setiap harinya. Bagi mereka, menjadi pengemudi ojek online adalah “jaring pengaman” terakhir ketika jaring ekonomi formal robek tak bersisa. Di saat usia tak lagi masuk kualifikasi HRD atau ijazah kalah bersaing dengan tuntutan pengalaman yang mustahil, aplikasi hijau dan oranye itu menjadi satu-satunya entitas yang masih mau mengucap, “Selamat bergabung.”
Namun, di sinilah ironi itu dimulai.
Kebebasan yang kita agungkan di awal tadi yaitu tentang tidak adanya shift dan atasan, perlahan berubah menjadi penjara tanpa dinding. Tanpa upah minimum, tanpa tunjangan kesehatan yang pasti, dan tanpa pesangon jika akun mereka tiba-tiba terblokir oleh algoritma, para buruh digital ini sebenarnya sedang memikul risiko perusahaan di atas pundak mereka sendiri.
Jika dulu buruh pabrik berdemo menuntut jam kerja delapan jam, “buruh aspal” ini justru sering kali harus “sukarela” bekerja 12 hingga 14 jam. Bukan karena diperintah atasan, melainkan karena didorong oleh kebutuhan perut dan algoritma yang menuntut konsistensi. Mereka tidak lagi dikejar oleh mandor, melainkan dikejar oleh performa layar ponsel yang bisa merosot kapan saja.
Kini, setiap tanggal 1 Mei, ketika kepalan tangan para buruh konvensional memenuhi jalanan dengan tuntutan upah dan kesejahteraan, para pengemudi ojek online sering kali tetap berada di balik kemudi, mengejar sisa-sisa orderan di tengah penutupan jalan. Bagi mereka, libur adalah kemewahan yang tak selalu bisa dibeli, dan demonstrasi kerap terasa seperti waktu yang terlalu mahal untuk dilepaskan. Peta GPS di layar ponsel mereka terus menyala, menunjukkan rute yang seolah tak pernah selesai, sementara status “mitra” tetap menjadi paradoks: merdeka dalam waktu, namun rapuh dalam perlindungan.
Pada akhirnya, di abad ke-21 ini, kita dipaksa untuk bertanya ulang. Jika teknologi diciptakan untuk membebaskan manusia, mengapa ia justru kerap menjadi pelabuhan terakhir bagi mereka yang tersisih dari sistem? Bagi para pengemudi ojek online, Hari Buruh bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat sunyi bahwa di balik setiap titik tujuan yang kita lihat di layar, ada manusia yang sedang bertarung menjaga hidupnya tetap berjalan.
Mereka mungkin tak berdiri di atas panggung orasi, tak membawa spanduk, dan tak tercatat dalam barisan panjang demonstrasi. Namun mereka ada, nyata, bergerak, dan terus bekerja di sela kemacetan kota. Dan mungkin, justru di sanalah makna Hari Buruh hari ini perlu diperluas, bahwa perjuangan tidak selalu bersuara keras, kadang ia hanya berbunyi pelan seperti notifikasi yang terus berdenting, memanggil mereka untuk kembali melaju.

